Digerakkan oleh mimpi-mimpi

Malam ini jam telah menunjukkan pukul 23.30, di depan hadapanku terlihat pemandangan istri dan anak-anakku tertidur lelap meninggalkan aku yang masih bekerja dengan ditemani laptop Compaq-ku.

Setelah menjalani rutinitas yang dijalani berulang-ulang setiap harinya dimana pagi sampai siang bekerja di kantor, kemudian bila tidak ada lembur dilanjutkan bermain-main dengan anak-anak hingga mereka tertidur baru setelah itu baru bisa memulai mengerjakan proyek pribadiku hingga larut malam, membuat badan ini sepertinya menyampaikan sinyal-sinyal kelelahannya. Sudah setengah jam lamanya kepala ini terasa berat dan mata melelehkan cairannya, namun bagaimanapun aku harus menahannya paling tidak hanya untuk 15-30 menit kemudian. Pemandangan kedua anakku yang tertidur lelap itulah yang dapat menahan kesadaranku hingga tetap terjaga.

Adalah sebuah mimpi yang mengharapkan masa depan yang cerah bagi kedua anakku, juga merupakan mimpi-mimpi yang menginginkan kesejahteraan dan kualitas hidup yang lebih baik pada lima atau sepuluh ke depan. Dan, saya berkeyakinan bahwa mimpi-mimpi itu tidak dapat terwujud dalam sekejap, namun harus dibangun oleh sebuah proses panjang untuk menunda kenyamanan yang ada pada saat ini. Apa yang kita lakukan pada saat ini dapat memberikan perbedaan-perbedaan di masa yang akan datang.

Insya Allah, mimpi-mimpi tersebut dapat terwujud hanya melalui kedisiplinan. Jim Rohn, seorang penulis 17 buku dan motivator Amerika memberikan makna pada arti kedisiplinan,

“you don’t have to change that much for it to make a great deal of difference. A few simple disciplines can have a major impact on how your life works out in the next ninety days, let alone in the next year or the next three years.”

Gambaran surga

Dulu terus terang saya mengira gambaran surga sebagaimana tertulis dalam Quran hanya merupakan pengibaratan yang hanya ditujukan bagi bangsa arab akan bentuk alam dunia yang ideal.

Dalam Quran disebutkan surga kurang lebih digambarkan merupakan taman yang penuh pepohonan berbuah lebat dimana didalamnya mengalir sungai-sungai. Saking lebatnya pepohonan tersebut, terik matahari akan terhalang oleh hijaunya dedaunan sehingga wajar penghuni di dalamnya tidak merasa haus dan dahaga selamanya. Hmm, sebuah gambaran yang utopia bagi bangsa arab yang tinggal di tengah-tengah gurun pasir yang kering dan gersang-akan lebih mudah bagi Nabi Muhammad memotivasi umatnya yang bangsa arab untuk mengikuti ajarannya.

Apabila kita berandai-andai seandainya ada kitab suci diturunkan di bangsa eskimo misalnya, mungkin saja gambaran surga dituliskan didalamnya berupa alam di negara kepulauan di daerah tropis dengan sinar matahari yang hangat dimana penghuni surga dapat seharian berjemur di pinggir pantai dengan lapisan ozon diatasnya dapat melindungi serangan kanker kulit. Coba berimajinasi, seandainya kitab suci diturunkan di Indonesia, kira-kira gambaran alam surga seperti apa yang disebutkan disebutkan didalamnya. Mungkin didalam surga tidak ada lagi koruptor dan preman jalanan yang berkeliaran dengan bebasnya di jalan-jalan, hehehehe….

Yah, daripada saya dicap 'orang gak bener’ lebih baik tidak perlu memperpanjang andai-andai di atas. Yang jelas dalam Quran sendiri gambaran surga tersebut merupakan perumpamaan atau metafora agar bentuk surga tersebut dapat diimajinasikan oleh akal manusia. Seperti apa gambaran surga yang ada di akherat, tidak ada seorangpun bahkan Nabi Muhammad sendiripun tidak mengetahui secara pasti bentuk surga yang sebenarnya. Wallahu’alam.

Hari ini saya secara tidak disengaja menemukan suatu tempat yang berada di lereng gunung merapi yang menurutku sangat indah. Lahannya tidak terlalu luas tapi cukuplah untuk dijadikan area tempat tinggal. Tempat itu hampir mirip sebuah taman sederhana yang tertata asri oleh rumput menutupi kontur tanah yang berbukit-bukit dengan sungai kecil yang mengalir di dalamnya dapat membangkitkan suasana damai. Membayangkan didalamnya dilengkapi oleh suasana anak-anak berlari-lari sambil bermain gelembung busa terus terang mengingatkan aku mungkin seperti inikah gambaran surga.

Insya Allah, suatu saat aku mendapatkan rejeki yang cukup untuk bisa dibelikan lokasi tersebut sehingga kami sekeluarga dapat bertempat tinggal di sana. Dengan sedikit imajinasi dan rehab sana sini mungkin dapat terwujud pemandangan alam sebagaimana yang digambarkan sebagai surga dalam Quran. Tidak ada salahnya apabila kita berusaha mencicipi suasana surga di dunia tersebut sebagai sebagai usaha memotivasi diri untuk lebih serius dalam beribadah agar kelak dapat dimasukkan dalam golongan ahli surga.

Maybe money will buy a house not a home, but without money there’s no house.

Pencerahan Plato


Bayangkan seumur hidup anda tinggal di dalam gua bawah tanah. Sejak dilahirkan, kaki-tangan anda diikat sedemikian rupa sehingga anda tidak dapat menggerakkan seluruh anggota tubuh. Yang bisa dilakukan hanyalah memandangi dinding belakang gua saja yang ada tepat di hadapan anda.

Sedangkan di belakang anda, terdapat api unggun dan mahluk-mahluk yang lalu lalang kesana kemari di sekitar api. Karena ada api di belakang mahluk-mahluk tersebut, maka timbul bayangan yang berkejap-kejap di dinding gua. Setiap saat wujud obyek bayangan ini berubah bentuk, terkadang terkadang bayangan tersebut menyerupai seekor kuda, terkadang menyerupai tumbuhan. Yang jelas, wujud bayangan tersebut terlihat agak kabur dan suram (hanya berwarna gelap).

Sepanjang hidup anda hanya melihat obyek bayangan yang ada di dinding gua dan belum pernah sekali saja melihat benda-benda apapun dalam wujud aslinya. Dari berbagai bayangan tersebut, anda mengenali bayangan tersebut sebagai kuda, tumbuhan, atau benda-benda lainnya. Setelah sekian lama hidup di dalam gua, anda telah menganggap bahwa bayang-bayang itulah yang ada.

Pada suatu ketika, anda dapat melepaskan diri dari ikatan. Hal yang pertama kali harus dilakukan adalah berbalik arah dan mengetahui bahwa semua bayang-bayang yang berasal dari cahaya api unggun. Mula-mula anda sangat takjub menyaksikan benda-benda yang terlihat jelas karena selama ini anda hanya melihat bayangannya.

Terdorong oleh rasa ingin tahu, anda memberanikan diri mencoba keluar dari gua. Setiba di depan mulut goa, anda semakin takjub melihat pemandangan alam raya yang penuh warna dan terlihat sangat nyata. Untuk pertama kalinya, anda melihat kuda dan tumbuhan dalam dimensi yang sebenarnya, yang bayang-bayangnya yang ada di dinding gua hanyalah refleksi cahaya belaka.

Sejenak anda merasa kegirangan merasakan sensasi pengalaman yang baru diperolehnya. Namun tak lama kemudian anda teringat masih banyak teman-teman anda yang masih terikat di dalam gua dan belum pernah mengalami pengalaman seperti yang anda alami saat ini. Anda kembali masuk ke dalam gua dan berusaha memberitahu kepada teman-teman anda seperti apa bentuk pemandangan di luar gua. Namun, walaupun telah terbebas dari ikatan, teman-teman anda tetap tidak percaya dengan apa yang anda katakan. Teman-teman anda tetap meyakini bahwa bayang-bayang yang selama ini dilihat merupakan wujud dari benda itu sendiri. Teman-teman anda sudah cukup puas dengan pengetahuan yang mereka miliki. Mereka selamanya menjadi manusia gua yang tidak akan pernah keluar dari gua.

Mitos di atas, disampaikan oleh Plato seorang filosof yang hidup pada jaman Yunani Kuno 2400 tahun yang lalu. Plato berpendapat, sudah menjadi tugas para filosof untuk keluar dari bayang-bayang menuju kebenaran sejati di balik fenomena alam. Seorang filosof sejati memiliki tanggung jawab untuk mendidik sesama.

Namun hal tersebut tidaklah mudah, diperlukan keberanian untuk menyampaikan kebenaran apapun risiko yang harus dihadapi. Menyuarakan kebenaran haruslah siap untuk tidak populer dan bahkan dibenci oleh orang lain. Socrates, guru Plato, terpaksa harus mengorbankan jiwanya demi mempertahankan gagasan kebenarannya yang dianggap kontroversional oleh para manusia gua.

Untuk mencapai kebenaran tidaklah dapat dilakukan dengan cara polling. Apabila dilakukan pemungutan suara di antara sesama penghuni gua, sudah barang tentu pendapat yang menyatakan tidak ada benda di luar gua yang dianggap sebagai kebenaran karena pendapat itulah yang diyakini oleh lebih banyak orang dibanding anda sendirian.
Orang-orang yang selalu menggunakan akal sehatnya dalam mencari norma-norma dan realitas atas segala fenomena yang selalu benar, selalu indah, dan selalu baik pada akhirnya berhasil menemukan kebenaran sejati. Kebenaran sejati adalah realitas yang bersifat kekal, ia tidak bakal berubah walaupun sudah tidak ada lagi orang yang meyakininya. Sampai kapanpun dua ditambah tiga sama dengan lima.

Broken Window


Lalat selalu berkeliaran di tempat-tempat kotor. Begitu pula dengan manusia, lingkungan yang kumuh akan mengundang kejahatan.

Boleh percaya atau tidak, dengan pernyataan di atas. Namun di belahan bumi lain, hal ini telah dibuktikan langsung oleh David Gunn dan William Bratton dalam upaya membasmi kejahatan di kereta bawah tanah (subway) di New York pada tahun 1980-an. Yang menarik keduanya bukanlah aparat kepolisian namun mereka adalah pejabat urusan perkeretaapian.

Pada awal tahun 1980-an, setiap orang selalu was-was saat berjalan-jalan sendirian di New York. Hampir setiap harinya, selalu ditemui korban penodongan, pembunuhan dan pemerasan yang dilakukan oleh anggota genk. Para anggota genk tidak segan-segan melukai bahkan membunuh orang-orang yang menjadi korban penodongannya. Sebut saja setiap tahunnya, kepolisian selalu menerima laporan terdapat 2.000 orang yang menjadi korban pembunuhan dan menerima lebih dari 600.000 korban penodongan. Ironisnya, polisi seakan tidak dapat berbuat apa-apa menghadapi kejahatan yang semakin merajalela.

Sekitar pertengahan tahun 1980-an, Gunn diangkat menjadi Direktur urusan kereta bawah tanah bersamaan dengan dilantiknya Bratton sebagai komandan keamanan kereta. Pada saat itu, kondisi sosial di lingkungan kereta bawah tanah cukup memprihatinkan. Tingkat kriminalitas di kereta bawah tanah demikian merisaukan sebagaimana ditunjukkan oleh banyaknya orang yang menjadi korban penodongan yang dilakukan secara terang-terangan. Di sisi lain, terjadi kebocoran pendapatan perusahaan kereta yang signifikan akibat banyaknya orang yang berani tidak membeli tiket. Pemandangan di wilayah stasiun sangatlah suram, terdapat banyak grafitti yang dilukis baik di dinding stasiun maupun di gerbong kereta.

Melihat kondisi tersebut, Gunn dan Bratton sepakat untuk mengatasi hal tersebut dari hal-hal yang kecil dan dianggap sepele, yaitu dengan melawan vandalisme aksi corat-coret grafitty di gerbong-gerbong kereta. Banyak orang yang meragukan keberhasilan upaya kedua tokoh ini dalam mengatasi masalah perkeretaapian yang telah demikian ruwet. Apa sudah demikian frustasikah mereka berdua sehingga tidak ada cara heroik yang bisa ditempuh selain usaha bersih-bersih gerbong belaka.

Gunn dan Bratton memiliki pendapat yang berbeda. Jika bisa mengatasi vandalisme maka permasalahan lainnya akan segera teratasi. Keduanya membuat kebijakan, begitu ditemukan gerbong kereta yang dicorat-coret, akan dipisahkan dengan gerbong lain yang bersih dan harus segera dibersihkan.

Gunn mengetahui secara persis dibutuhkan tiga hari kelompok genk untuk melukis gerbong kereta. Hari pertama mereka memberi cat dasar, hari kedua dilanjutkan dengan memasang pola, hingga hari ketiga baru bisa memulai corat-coret. Selama tiga hari mereka dibiarkan melukis gerbong dengan semaunya. Namun pada hari selanjutnya, gerbong tersebut langsung dibersihkan sebelum hasil corat-coretnya sempat dilihat orang lain. Kaum vandalisme demikian frustasi, melihat hasil jerih payahnya seakan sia-sia. Tak lama kemudian aksi corat-coret grafitti hilang dengan sendirinya.

Bersamaan dengan program bersih-bersih gerbong, Bratton dengan bekerja sama dengan pihak kepolisian memimpin program pemberantasan penumpang kereta yang tidak beli tiket. Adanya penumpang gelap merupakan ketidakteraturan yang menjadi pangkal kriminalitas. Berpuluh-puluh orang yang ketahuan tidak beli tiket, ditangkap dan diborgol namun hanya dipermalukan berdiri di depan loket menjadi tontonan orang banyak selama berjam-jam untuk kemudian dibebaskan setelah dicatat identitasnya.

Baru ketahuan, ternyata di antara penumpang-penumpang gelap yang tertangkap tersebut ternyata memiliki kecenderungan kriminal. Di antaranya merupakan buronan Polisi menjadi bersemangat mendukung upaya Bratton, karena dari situlah mereka dapat menangkap pembunuh, penodong, dan anggota genk yang selama ini dicari-cari oleh pihak kepolisian. Setelah itu tingkat kejahatan di kereta bawah tanah demikian merosot tajam. Atas prestasinya, pada tahun 1994 Bratton diangkat menjadi kepala polisi kota New York.

Baik Gunn dan Bratton secara tidak langsung mengaplikasikan teori Broken Window dalam mengatasi masalah kejahatan di kota New York. Teori Broken Window merupakan teori yang dikemukakan oleh krimonolog George Kelling dan Chaterine Coles pada tahun 1996.

Disebutkan dalam teori tersebut bahwa kriminalitas terjadi sebagai akibat dari adanya ketidakteraturan. Semuanya bermula dari, sebut saja adanya jendela yang kacanya pecah yang hanya didiamkan oleh pemiliknya, sehingga akan mendorong para pelaku kriminal lain untuk memecahkan kaca jendela lainnya. Filosofinya kurang lebih seperti ini, jendela pecah yang tidak diperbaiki akan menimbulkan kesan ketidakpedulian yang dapat memicu aksi-aksi vandalisme dan keonaran lain sehingga dapat menyulitkan banyak orang.

Adanya gambar-gambar grafitti yang marak di gerbong kereta, menandakan tiadanya pengendalian yang kuat aparat keamanan untuk menyelenggarakan ketertiban di lingkungan stasiun. Otomatis hal tersebut akan memancing pelaku kriminal lain untuk ikut beroperasi sehingga pada akhirnya stasiun menjadi sarang penjahat mulai dari kelas teri sampai dengan kelas kakap.

Jika berkaca pada demikian kompleksnya permasalahan sosial bangsa ini, jangan-jangan disebabkan oleh ketidakpedulian bangsa ini atas perkara-perkara kecil. Sebagaimana maraknya kasus penggusuran yang disertai dengan aksi kekerasan antara aparat ketertiban dengan korban tergusur semestinya tidak perlu terjadi jika sejak awal pihak berwenang tidak membiarkan penggunaan lokasi-lokasi tak bertuan oleh pihak yang tidak berhak. Bisa jadi membudayanya perilaku korupsi bangsa ini berawal dari sikap tak acuh masyarakat ini membiarkan orang-orang di sekitar kita telah menyalahgunakan wewenangnya demi kepentingan pribadi. Jika yang sepele-sepele tidak mampu diatasi, bagaimana mungkin dapat mengatasi perkara yang besar.

Faiz dan Tank


Males banget deh, disuruh foto ama tank. Cuman Papah sukanya maksa Faiz. Faiz sih nurut aja disuruh foto dengan berbagai pose sama kendaraan perang yang dipasangi meriam di atasnya. Kata Papah sih, nanti fotonya mau dicetak besar dalam ukuran 12 R biar bisa dipasang di dinding kamar tidur.

Terus terang aja, yang benernya pengen foto ama ‘tank’ itu adalah Papah. Tapi berhubung waktu itu Papah malu foto sendirian ama kendaraan tempur tersebut, akhirnya Faiz deh yang jadi pelampiasannya di foto bareng ama kendaraan lapis baja yang punya rodanya banyak banget itu.

Sebenarnya waktu itu gak ada rencana berkunjung ke Museum TNI-AD yang ada di Jalan Jenderal Sudirman Yogyakarta. Tadi pagi, kata Papah acaranya cuman jalan-jalan berdua muter-muter kota naek Bus Trans Jogja. Lha kok, tau-tau Papah mendadak ngajak Faiz turun dari bus tepat di depan museum terus maksa-maksa Faiz berfoto ama tank yang di parkir di halaman museum.

Maklum aja, Papah kan hobinya perang. Kalo pas di Toko Buku Gramedia sukanya nongkong di rak buku-buku tentang perang. Di rumah, kalo pas nyalain komputer pasti maen game perang. Dan kalo pas nyetel DVD sukanya nonton film perang. Kan kasian Mamah, jadi jarang nonton sinetron di TV.

Koq bisa sih, barangkali dulu waktu masih kecil Papah bercita-cita jadi tentara. Menurutku sih Papah gak pantes banget jadi tentara, mana ada tentara gak bisa berenang. Kan tentara harus bisa berenang, iya toh? Coba bayangin gimana kalo pas ada perang di laut kaya’ yang ada di film perangnya Papah.

Faiz sih juga belum bisa berenang, tapi setidaknya Faiz berani nyemplung masuk ke kolam renang sewaktu diajak liburan sekeluarga di Taman Wisata Air Tirto Nirmolo dulu. Coba dibandingin ama Papah yang gak konsekuen nyuruh-nyuruh Faiz berenang, eh dianya cuman berani nyemplung ke kolam renang yang dalamnya selutut kaki. Masak ada bapak-bapak udah gede ikut berenang ke kolam renang anak-anak.
Dasar Papah, sukanya ada-ada aja ….

Mengasuh anak profesi mulia


Untuk pertama kalinya istriku merajukku supaya diperbolehkan untuk menjadi pekerja kantoran. Dalam kondisi normal, mungkin aku langsung menyetujui proposal yang diajukannya. Secara ekonomi, bisa jadi penghasilan rumah tanggaku akan segera meningkat seiring dengan tambahan penghasilan dari istriku yang bekerja. Secara status sosial, mungkin gengsiku dapat terangkat – suami manapun pasti akan bangga memperistri seorang perempuan yang menarik, dan cerdas lagipula bekerja di suatu perusahaan yang terkemuka.

Namun keinginan tadi langsung kutepis sesaat terbayang wajah-wajah anakku tertua yang baru saja menginjak usia tiga tahun dan adiknya yang masih bayi usia satu tahun.
tanyaku pada istriku
“Apakah masih ada kebutuhan rumah tangga yang masih belum tercukupi?”
“Cukup sih,” timpal istriku “hanya saja dengan adanya tambahan penghasilan kita dapat lebih leluasa beli ini-itu atau bisa dipake untuk memperbesar cicilan dan plafon kredit KPR. Intinya gitu looh, dengan bertambahnya penghasilan keluarga akan memperbesar kesempatan kita untuk memenuhi kebutuhan keluarga.”
“Lalu siapa yang mengurusi anak-anak di rumah?” tanyaku balik pada istriku.
“Kan bisa nyewa baby sister buat momong si-kecil….”

Dari diskusi kecil tersebut, ada hal yang menarik untuk dijadikan bahan renungan. Tidak ada yang salah dengan pendapat istriku, namun setelah dipikir-pikir manfaat yang dirasakan kok lebih banyak dirasakan oleh pihak orang tua dibandingkan kepada pihak anak-anak. Untuk kondisi ekonomi rumah tanggaku, adanya tambahan penghasilan tersebut lebih banyak dibelanjakan untuk konsumsi barang-barang yang lebih bersifat tersier dibandingkan dibelanjakan untuk kebutuhan anak-anak. Untuk saat ini, kebutuhan ekonomi anak-anakku lebih berkisar pada pemenuhan kecukupan gizi dan pengembangan mental-intelektual yang selama ini dengan penghasilan yang ada telah cukup terpenuhi. Jadi menurut hemat saya, kebutuhan tambahan penghasilan gaji dari istriku belum menjadi kebutuhan yang mendesak bagi rumah tanggaku.

Memang disadari segala sesuatu dalam hidup ini menuntut suatu pengorbanan. Menurut pendapatku, pengorbanan terbesar dalam hal ini adalah pengorbanan seorang perempuan yang harus bekerja di sektor publik dengan meninggalkan bayinya seharian demi mencukupi nafkah keluarganya. Memang secara material diakui keberadaan istri yang bekerja sudah pasti dapat menambah penghasilan keluarga. Namun dari sudut pandang yang berbeda, tambahan penghasilan tersebut selamanya tidak akan dapat mengganti hilangnya waktu dan kesempatan seorang ibu untuk mengasuh anaknya yang selamanya tidak dapat digantikan dalam bentuk apapun.

Melalui tulisan ini, bukan berarti saya menentang pendapat yang pro terhadap perempuan bekerja. Menurut saya, hal tersebut tidak bisa disamaratakan antara satu kasus dengan kasus yang lain. Saya menyaksikan dengan mata kepala sendiri masih ada seorang ibu rumah tangga yang tidak mampu memberikan kasih sayang dan pendidikan budi pekerti dengan semestinya kepada sang anak. Namun di sisi lain juga terdapat perempuan (yang dalam kacamata saya) dapat sukses berperan sebagai wanita karier sekaligus sukses menerapkan perannya sebagai orang tua efektif dalam mengasuh anak-anaknya. Setiap orang boleh mempertahankan pendapatnya masing-masing.

Namun menurut pendapat saya untuk tahap perkembangan anak usia dini, seorang anak masih membutuhkan keberadaan keluarga sebagai satu-satunya lingkungan sosial yang dimiliki sebagai tempat berlindung dan mencari kasih sayang. Siapa lagi-sih sumber curahan kasih sayang dan perlindungan terbaik yang dibutuhkan oleh sang anak kalau tidak berasal dari orang tuanya sendiri. Profesi pembantu, baby sister, dan the nanny biar dibayar seberapapun masih tetap orang lain di luar lingkungan keluarga yang hanya ditugasi untuk menjaga bayi agar tidak kelaparan dan selamanya tidak dapat memberikan kasih sayang dengan sebenar-benarnya. Miris rasanya, melihat ada anak kecil yang dikala sakit tidak ingin bertemu dengan orang tuanya justru malah ingin selalu berdekatan dengan baby sister-nya.

Pada usia menginjak dewasa kelak, ketergantungan seorang anak akan kasih sayang dari orang tuanya berangsur-angsur berkurang seiring dengan anak menerima limpahan kasih sayang dari lingkungan sosialnya yang dikenalnya baik dalam bentuk pertemanan, persahabatan, atau bahkan hubungan asmara dari lawan jenis.

Saya meyakini adanya karma atas amalan baik yang kita kita kerjakan selama ini pada suatu saat akan mendapatkan balasan yang setimpal. Terus terang hal ini baru saya ketahui setelah saya mempelajari isi kandungan doa yang sering saya panjatkan setelah mengerjakan ibadah sholat yang selama ini saya ucapkan tanpa mengetahui arti terjemahannya. Bacaan doa ini merupakan bacaan yang dituntunkan oleh Nabi Muhammad sebagai munajat memohon kebaikan untuk orang tua kita yang ternyata bersumber dari Al Quran Surat Al-Isra’ 23-24, diterjemahkan sebagai berikut:

“Wahai Tuhanku, kasihanilah kedua orang tuaku sebagaimana keduanya telah mengasuhku sewaktu aku masih kecil.”

Subhanallah, ternyata Allah Swt sampai kapanpun tidak akan menyia-nyiakan segala bentuk kasih sayang yang telah diberikan orang tua kepada anaknya. Untuk itu jadikanlah fase usia dini sebagai momentum bagi orang tua untuk mencurahkan kasih sayang kepada anak dengan sebaik-baiknya.

“Istriku, memang kamu ngga’ sayang membiarkan anak kita diasuh oleh baby sister?” Tanyaku kembali setelah beberapa saat aku dan istriku saling terdiam.
“Sebenarnya kasihan juga sih, mas.” Lirih istriku “Rasanya ngga’ adil juga ya mas. Bukankah pada jaman dulu, orang tua kita-lah yang mengasuh kita dari masih kecil hingga bisa jadi dewasa seperti sekarang ini.”
“Yah, mungkin dengan mengasuh anak-anak kita sendiri,” lanjut istriku “merupakan bentuk balas budi kita kepada orang tua yang kita turunkan kepada anak-anak kita.”

Tulisan ini didedikasikan kepada kedua orang tuaku yang telah membesarkan aku dengan penuh kesabaran.

Khayalan Menjadi Kaya

Bosan.... seharusnya aku tidak di sini. Mungkin pada saat seperti ini tidur-tiduran di rumah terasa menyenangkan namun musykil untuk dilakukan karena aku bukanlah tuan bagi diriku sendiri. Kewajibanku kepada pihak majikan, memerintahkan aku harus berada di kantor dari pagi hingga sore walaupun seluruh pekerjaan praktis sudah diselesaikan pada pagi hari ini.

Baik, untuk saat ini aku perlu minta maaf yang sebesar-besarnya kepada ‘Bos’ karena terpaksa mencuri waktu kerjaku hanya untuk berkhayal menjadi orang kaya……
Seandainya saja aku mendapat undian berhadiah uang kas sebanyak dua miliar. Agar supaya uang tersebut bisa kunikmati selamanya, rencananya uang sebanyak itu akan ditanamkan dalam berbagai bentuk portofolio. Seratus juta aku simpan dalam tabungan, dua ratus juta dalam deposito, tiga ratus juta aku percayakan pada manajer investasiku untuk diinvestasikan dalam bentuk saham, lima ratus juta dalam reksadana, dua ratus juta buat modal usaha istriku, tiga ratus juta aku bangun properti untuk disewakan, dua ratus juta aku belikan kendaraan umum, lima ratus juta buat modal jadi rentenir plus anggaran buat gaji pengacara dan jasa debt collector….

Stop!!! Kok uang segitu banyak baru cukup untuk investasi saja, mana jatah buat senang-senang. Kalo begitu tambah lagi deh uang khayalanku menjadi sepuluh miliar. Nah, ini baru cukup, coba hitungan tadi dilanjutkan yuk!
Tiga ratus juta buat beli Nissan X-trail, delapan ratus juta buat bangun rumah di kawasan Timoho, seratus juta buat bikin kolam renang pribadi, tiga ratus juta buat jalan-jalan ke luar negeri selama sebulan, seratus lima puluh juta buat ongkos ONH Plus-plus sekeluarga, dua ratus juta buat beli seperangkat home theater, enam ratus juta buat anggaran pendidikan anakku sampai lulus kuliah di luar negeri, satu miliar juta buat biaya rekaman lagu dan promo album, lima miliar buat modal nyalon walikota, dua ratus juta buat nraktir temen-temen kantor pamitan pensiun dini hehehe, satu miliar juta buat beliin rumah istri muda sebagai hadiah bulan madu hemmmm....

Lo, kok orientasinya ingin berbuat aneh-aneh. Plis deh, coba renungkan apakah keinginanmu itu sudah cukup untuk bisa membahagiakan orang-orang terdekatmu. Jawabannya relatif, bisa ya tapi bisa jadi tidak sama sekali. Kok bisa? Bukannya seluruh cita-cita yang barusan ditulis hanyalah mewakili keinginanku semata belum mengakomodir aspirasi seluruh anggota keluargaku.

Kalo begitu, aku perlu minta maaf lagi kepada ‘Bos’ atas penyelewengan waktu kerjaku digunakan untuk menuliskan daftar keinginan seluruh anggota keluargaku.
Berikut daftar keinginan anggota keluargaku setelah dilakukan wawancara imajiner lima menit sebelumnya;
Istriku : “Buat modal buka butik. Tapi awas, ngga’ boleh kawin lagi!!! :( “
Faiz : “Benerin roda sepeda yang rusak kelindes roda mobil papahnya.”
Ezy : “Papuaah… mpuuu halaa (bahasa bayi = memelihara kucing aja yuuk).”

Dasar bayi, punya uang banyak kok orientasi cuman buat memelihara kucing doang. Tapi apapun aspirasinya poko’nya semua harus dipenuhi, la wong namanya juga orang kaya.

Tak terasa waktu telah menunjukkan jam 16:30 berarti jam kerja kantor telah berakhir. Di luar jendela, terlihat cahaya matahari sore masih demikian terangnya. Baru kusadari, setelah beberapa hari terakhir tugas-tugas dikantor memaksaku menjalani pola hidup P4 alias Pergi Pagi Pulang Petang. Ternyata bisa pulang di saat hari masih sore merupakan suatu kebahagiaan tersendiri bagiku. Terdapat kenikmatan tersendiri mendapatkan kesempatan bisa bertemu dengan anak-anak sepulang dari kantor setelah sekian lama aku hanya bisa menyaksikan mereka telah tertidur setiba aku pulang dari kantor.

Di balik keterbatasan manusia untuk menggapai seluruh keinginannya tersembunyi terdapat kebahagiaan yang hanya dapat dirasakan oleh orang yang pernah merasakan kehilangan atas suatu nikmat. Di balik keterbatasan penghasilanku ternyata terdapat kesenangan tersembunyi di saat aku dan istriku menerapkan disiplin mengalokasikan anggaran belanja keluarga sehingga pada akhirnya kami dapat membelikan barang-barang idaman. Menjadi bahagia tidaklah selalu identik dengan menjadi orang kaya.

Merasakan arti kebahagiaan tergantung dari sisi mana kita memandang suatu permasalahan. Sebagaimana memandang gelas yang setengahnya berisi air, pada sudut pandang yang berbeda bisa jadi kita memandang gelas yang sama tersebut dalam kondisi setengahnya kosong. Orang yang merasakan keberadaan air yang tersisa separuh isi gelas, baru dapat mensyukuri nikmatnya meminum sisa air yang masih tersisa di dalam gelas. Berbeda dengan orang yang memandang pada sisi gelas yang kosong, ia akan merasakan kekurangan dan terus merasa kekurangan seberapa banyakpun air dituangkan dalam gelas. Orang yang tidak bisa mensyukuri atas sesuatu yang ada tidak bisa merasakan kebahagiaan.

Sore ini aku merasa bahagia atas segala sesuatu yang baru dimiliki. Di atas sepeda motorku yang melaju pulang ke rumah, aku telah melupakan semua khayalan menjadi kaya.

Teman Pertamaku

Namaku Fawzy Dhia Adhika, aku biasa dipanggil dik Ezy. Walaupun pada bulan Juni 2008 umurku baru genap setahun dan belum bisa berjalan, tapi aku udah punya teman lo. Namanya Rasya, umurnya juga baru setahun dan hobbynya maen bola kaya’ aku.

Setiap hari kami saling bertemu. Kalau udah ketemu, kami selalu ngobrolin topik-topik yang menarik tentu saja dengan bahasa planet kami. Berbagai aktivitas sering kami kerjakan bersama, misalnya maen mobil-mobilan hingga yang paling militan yaitu gebrak-gebrak pintu mushola dekat rumah kami ……. he he he

Rasya selalu maen ke rumahku sambil nganterin mamanya belanja kebutuhan sehari-hari. Kebetulan si penjual keliling tempat belanja ibu-ibu tadi sering mangkal di depan rumahku.

Pernah suatu hari Rasya ngga’ ikut mamanya belanja, kata mamanya dia baru bobo di rumahnya. Ah, aku sih ngga’ langsung percaya dan ngotot pokoknya hari ini harus ketemu ama Rasya. Langsung aja aku minta mama untuk menggendong nyamperin Rasya biar bisa maen di rumahnya yang tak jauh dari rumahku.

Eh, setiba dirumah Rasya, aku menjumpai Rasya masih bobo’ di kasurnya. Kata papahnya, Rasya masih kecapaian gara-gara kemaren ikut orang tuanya pergi ke luar kota. Daripada udah jauh-jauh jalan ngga’ dapat apa-apa, kuputuskan aku maen bola sendirian di rumahnya Rasya itung-itung sambil menunggu Rasya bangun. Setelah beberapa saat, aku mulai mengantuk sedangkan Rasya belum juga bangun, akhirnya mamaku mengajak aku pulang ke rumah. Akupun tertidur dalam gendongan mamaku sepanjang perjalanan pulang sambil bermimpi bermain bersama teman pertamaku.

Saatnya yang muda memimpin

Ucapkan selamat tinggal pada partai-partai kadaluarsa dan tokoh politik bangkotan. Say go to hell pada mantan pejabat muka-muka lama yang ingin terus berkuasa kembali, maaf giliran anda telah habis! Telah jenuh kami menanti janji-janji yang selama ini kalian ucapkan saat kampanye dulu.
Kini giliran yang muda memimpin bangsa ini.

Kemenangan pasangan Hendrawan-Dede Yusuf yang keduanya berusia 42 tahun ini meraih suara 40,50% dalam Pilkada Jawa Barat 2008 mengungguli kandidat kuat lain yang jauh lebih senior di kancah dunia politik. Sebut saja Agum Gumelar, mantan perwira tinggi TNI malang melintang di berbagai bidang dengan pernah menduduki berbagai jabatan seperti Ketua Umum KONI, Menteri Perhubungan dan Menko Polkam, walaupun didukung oleh partai besar macam PDIP dan PPP hanya mampu meraih suara sebesar 34,55%. Sedangkan calon lainnya Danny Setiawan, Gubernur Jawa Barat Periode 2003-2008 yang dicalonkan oleh Partai Golkar dan Partai Demokrat hanya meraih posisi bontot dengan suara sebanyak 24,95%.

Di belahan dunia lain, semangat untuk lahirnya pemimpin muda juga dirasakan di negara Paman Sam. Sebut saja Barrack Obama, Senator dari Illionis berkelahiran Agustus 1961 disebut-sebut sebagai calon presiden Amerika Serikat mendatang. Selangkah lagi, Obama diperkirakan akan mengalahkan Hillary Clinton kandidat kuat dari Partai Demokrat untuk bersaing dengan John Mc Cain-kandidat utama dari Partai Republik dalam kompetisi akhir memperebutkan kursi kepresidenan.

Terlepas dari pribadi pemimpin muda sebagaimana dicontohkan di atas, hal yang perlu dicermati adalah harapan masyarakat luas yang telah jengah menginginkan adanya perubahan setelah sekian lama dinanti tak kunjung.

Kalangan 'senior' harus punya kearifan merelakan kalangan muda untuk memimpin. Diakui atau tidak, seiiring dengan liberalisasi informasi saat ini tersedia banyak stok generasi muda yang cerdas, ambisius, potensial dan mengembangkan nilai-nilai baru dalam kehidupan. Namun entah kenapa, masih terdapat ‘senior’ yang menghambat aspirasi ‘yuniornya’ dengan menganggap mereka belum siap untuk memegang tanggung jawab lebih besar.

Dibutuhkan energi untuk bersikap legawa dari ‘senior’ menerima keadaan lingkungan telah jauh berubah dibandingkan kondisi sewaktu pertama kali diangkat sebagai pemimpin. Sejarah membuktikan proses suksesi di Indonesia ditempuh dengan jalan kekerasan. Sejarah juga membuktikan bahwa Sumpah Pemuda, kemerdekaan Indonesia dan Reformasi 1988 merupakan karya para pemuda yang mengambil paksa kekuasaan dari tangan para ‘senior’ yang telah menikmati kemapanan.

Tidak ada mekanisme uji kepemimpinan paling ampuh untuk membuktikan kapabilitas seseorang layak menjadi pemimpin selain melalui seleksi alam. Krisis sosial akan menjadi semacam proses kristalisasi, yang memunculkan generasi-generasi yang tangguh pada eranya. Namun hal ini perlu diimbangi oleh mekanisme 'leader out' untuk mencegah lahirnya para pemimpin yang kadung mapan yang telah jauh terjerumus oleh sistem yang tidak memberikan faedah secara signifikan bagi konstituennya.

Tidak ada pilihan lain bagi bangsa ini untuk menata mekanisme ‘leader-in’ dan ‘leader-out’ tanpa kekerasan. Untuk membahas hal ini tidaklah cukup diserahkan kepada segelintir orang yang terpilih sebagai anggota DPR, mengingat mereka tidaklah murni menyuarakan hati nurani karena mereka adalah membawa misi kepentingan golongan yang menjadi kendaraan politiknya. Tentu saja sejumlah partai politik yang nota bene dimiliki oleh para ‘senior’ merasa keberatan untuk meloloskan calon independen dalam Pemilu karena terdapat kekhawatiran tidak bisa mengendalikan para calon independen.

Jika mekanisme ‘leader-in’ dan ‘leader-out’ tidak dibangun mulai dari saat ini, dikhawatirkan akan selalu terulang proses suksesi di Indonesia yang harus ditempuh dengan jalan kekerasan. Siapa lagi yang harus menjadi korban selain rakyat kecil. Telah lama mereka menunggu godot datangnya ratu adil.

Meniti tangga kemuliaan


Kita mungkin mudah untuk terperangkap dalam rutinitas, aktivitas, kesibukan hidup dimana kita bekerja keras untuk menaiki tangga demi tangga kesuksesan dalam hidup ini. Tapi pernahkah terpikirkan bahwa mungkin saja tangga tempat kita berpijak tersebut bersandar pada dinding yang salah?

Setiap orang sebenarnya mempunyai keinginan untuk meraih keberhasilan dalam hidupnya. Hanya orang-orang yang berputus asa yang tidak ingin berhasil dalam hidup. Orang sering merasa mendapatkan dirinya telah mencapai keberhasilan atau pengakuan lebih tinggi atas upaya yang dikerjakannya. Seorang staf pelaksana bekerja sebaik mungkin agar bisa sukses dipromosikan menjadi manajer atau malah menjadi direktur suatu perusahaan sekalian. Seorang politikus berupaya mengembangkan pengaruhnya ke banyak pihak untuk bisa memperoleh mandat kekuasaan. Bahkan seorang koruptor berupaya untuk mempertahankan sumber-sumber pendapatan haramnya dan menyembunyikannya agar sukses bisa dinikmati sampai tujuh turunan.

Setiap orang memiliki definisi ukuran kesuksesan yang berbeda antara satu dengan lainnya. Sebagian orang menganggap kesuksesan identik dengan kekayaan, kemasyuran, kekuasaan, kecantikan atau sebagainya. Itu semua tidak salah, hanya apakah dorongan untuk mendapatkan cita-citanya justru membutakan esensi terhadap hal-hal yang sebenarnya terpenting dan malah mengaburkan tujuan hakiki. Terkadang kita hanya meraih kemenangan semu yang diperoleh dengan mengorbankan hal-hal yang justru jauh lebih berharga.

Pernahkah kita merenung untuk apa kita dilahirkan dan pernahkah kita tersadar pada suatu saat nanti kita akan dimatikan, sehingga kita akan berpisah dengan segala sesuatu yang telah kita miliki. Kalau sudah begitu percuma saja kita selama ini bersusah payah menggapai segala cita-cita toh pada akhirnya semua itu akan kita tinggalkan begitu saja.
Kalau begitu kita perlu bertanya-tanya mengapa dan untuk apa kita dilahirkan, padahal itu semua tidak diciptakan dengan sia-sia. Dalam keyakinanku tujuan utama kita hidup di dunia sebenarnya hanya untuk mencari keridhoan dari Sang Pencipta semata. Dengan kata lain segala sesuatu yang kita perbuat, impian yang kita kejar, kemapanan yang kita pertahankan dan seluruh sendi kehidupan didedikasikan sebagai manifestasi upaya meraih kehormatan di sisi-Nya.

Nah, dengan merujuk pada tujuan utama itulah kita dapat mengindentifikasi antara tujuan dan peran. Dalam hal ini pengertian tujuan adalah suatu kondisi yang menjadi harapan dan alasan bagi seseorang untuk melakukan tindakan. Sedangkan peran merupakan sikap dan tindakan yang harus dilakukan seseorang dan ditunjukan pada orang lain untuk menjaga keberadaannya. Sebagai contoh mahasiswa kedokteran menjalankan perannya dengan belajar sebaik mungkin agar kelak bisa kualified menjadi dokter di rumah sakit besar. Sehingga nantinya saat ditempatkan sebagai dokter di puskesmas di daerah terpencil ia akan merasa shock. Akan berbeda hasilnya bila merujuk pada tujuan utama, misi mahasiswa kedokteran untuk belajar didasarkan pada keinginan untuk bisa menyembuhkan orang-orang di manapun ia berada.

Dari situlah kita bisa menyikapi bahwa simbol-simbol kesuksesan yang ada di dunia apapun namanya seperti gelar, pangkat, kekayaan dan lain-lain bukanlah sebagai tujuan utama namun lebih kita anggap sebagai peran yang kita sandang di hadapan orang lain. Bukankah pada akhirnya kita akan mempertanggungjawabkan segala harta, kekuasaan, popularitas, kelebihan dan pengetahuan yang selama ini kita miliki. Dengan demikian setiap orang boleh saja memiliki ambisi untuk mengejar pangkat dan jabatan paling tinggi dalam karir selama itu diorientasikan sebagai sasaran antara untuk mengambil porsi peran lebih besar untuk tujuan kemaslahatan dibandingkan ketika porsi peran yang bisa dilakukan oleh pegawai rendahan. Dengan merujuk pada tujuan hidup yang paling hakiki, kita sikapi hidup ini sebagai suatu proses diri untuk menuju kemuliaan dari Sang Pengatur Kehidupan.

Kita menyadari bahwa hidup sebenarnya merupakan siklus dimana setiap generasi menggantikan peran generasi sebelumnya, maka kita hanya bisa menjalankan peran dengan sebaik-baik mungkin selama giliran kita masih berlangsung. Kita hanya bisa berupaya untuk terus menjaga menjaga kesadaran dan performance kita terus meniti tangga di jalur yang benar hingga tiba saatnya kita baru menyadari bahwa giliran kita akan berakhir.
Pada saat itu kita hanya bisa pasrah menyaksikan ruh ini dicabut dari raga, kita bisa merasa puas dengan meninggalkan makna hidup dan kebanggaan bagi orang-orang yang dikasihi. Tiada bunyi yang terdengar pada saat itu kecuali kita hanya bisa mendengar sayup-sayup suara yang semakin jelas seakan mengantarkan kepergian kita meninggalkan dunia

”Wahai jiwa yang tenang.
Kembalilah engkau kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya.
Maka masuklah ke dalam jamaah hamba-hamba-Ku,
Dan masuklah ke dalam surga-Ku”

(QS : Al Fajr 27-30)

Itulah titian tangga terakhir menuju kemuliaan yang sejati.....