Nuansa Keakraban Jazz Idang Rasidi

Pagelaran Customer Gathering Bank BPD DIY bertajuk ’Jazz Nite’, yang menghadirkan dedengkot jazz, Idang Rasidi, minggu malam 19 April 2009 lalu sukses digelar. Kesuksesan ini pula yang meninggalkan kenangan berarti, terlebih di hati tamu undangan dan para nasabah Bank BPD DIY yang hadir di Customer Gathering.

Simak saja, tak kurang dari 200 tamu undangan yang hadir termanggut-manggut menikmati penampilan pianis kelahiran Bangka yang membawakan beberapa lagu jazz easy listening sepanjang kurang lebih selama dua jam. Tampak hadir tamu undangan dalam acara tersebut di antaranya Herry Zudianto, Emha Ainun Najib, dan sejumlah nasabah Bank BPD DIY.

Konser ini diselenggarakan secara terbuka di halaman parkir Bank BPD DIY. Walaupun sempat diwarnai kekhawatiran akibat sempat turun gerimis menjelang acara dimulai. Tapi tak menyurutkan semangat para tamu dan panitia yang terlibat dalam acara ini. Untuk kali ini, aku cukup beruntung didapuk jadi salah satu panitia di acara ini, sehingga aku dapat mengambil posisi bagus untuk nonton aksi para musisi jazz.

Sejumlah lagu jazz milik musisi dunia seperti Aretha Franklin, Dr Evil, Stevie Wonder dan Paul Mc Cartney mengalir pada malam itu. Pada malam itu, aksi Idang malam itu diiringi oleh aksi solo bass yang dimainkan oleh Shadu Rasyidi, yang tak lain dan tak bukan adalah putra kang Idang. Selain itu sejumlah personel band ikut mendukung aksi Idang, yaitu Mattew Sayers, Sandung Winarta, Syam Aji Ramdhan.

Terlebih aksi Idang malam itu, dimeriahkan dengan penampilan penyanyi jazz kenamaan Lea Simanjutak dan aksi jam session flute dari Nano Tirto. Nano Tirta demikian nama sapaan Bapak Supriyatno, yang tak lain dan tak bukan adalah Direktur Utama Bank BPD DIY.

Suara merdu dari sang vokalis yang diiringi dengan tiupan flute dari Nano Tirta membuat betah tamu hadirin untuk beranjak dari tempat duduknya. Lengkingan flute yang dimainkan oleh Supriyatno yang lebih dikenal di kalangan seniman dengan panggilan Nano Tirta, seakan menambah suasana akrab Bank BPD DIY di antara hati para nasabahnya.

Pria bertubuh tambun ini juga adu kepiawaian memencet tuts piano, saat berduet Nano Tirta yang berimprovisasi memainkan flute. Seolah terjalin komunikasi, improvisasi tiupan flute Nano Tirta mengalir dalam tembang-tembang jazz berirama soul. Alhasil yang ada hanyalah konsep musik jazz easy listening, yang dapat dinikmati oleh siapapun saja.

Tidak terasa, sudah dua jam aku bergoyang menikmati setiap lagu yang dimainkan oleh kang Idang. Terus terang aku bukanlah Jazz Freak, itupun dari 8 lagu yang dimainkan hanya 1 lagu saja yang aku tahu, Just the two of us. Namun kali ini aksi kang Idang, Lea dan Pak Nano cukup luar biasa. Gak ada ruginya goyang malam ini. Kuakui malam ini memang ruarrrrr biasa.


Nge-blog Gue Banget

Tak terasa blog ini telah berusia 1 tahun lebih, dari sinilah aku berkenalan dengan dunia nge-blog.

Jika sebelumnya, pola penggunaan internet rata-rata cuman gitu-gitu aja. Mulai dari buka website Bank Indonesia- gak ada PBI yang di-update, terus buka email-gak ada yang reply, terus ngecek friendster-gak ada yang nge-add lagi, cari konten berita-isi gitu-gitu aja, terus mulai suntuk, lalu mulai iseng buka situs aneh, tentang setan, sejarah perang dunia, foto seleb, tips ML, terus tobat, ganti buka website Bank BPD DIY, Bank Indonesia lagi hehehehehe

Namun setelah berkenalan ama dunia blog, eh ternyata asyik juga yaa. Dari ngeblog, pola penggunaan internetku jadi lebih terarah. Mulai dari bikin artikel, terus diposting, terus hasilnya ditontan-tontoning terus (kagum sendiri jadinya), terus mikirin bahan postingan berikutnya and soon and soon. Sehingga dari iseng nge-blog, timbul ikatan batin antara aku, komputer, dan modem (wah gawat, cinta segitiga).

Dari nge-bloglah, aku mendapat sahabat-sahabat baru di dunia maya. Mereka bisa berada di jogja, di bandung, di amrik, atau dimana saja. Merekalah adalah para blogger sejati yang bisa memberi wawasan baru bahwa 'Nge-blog itu Guee Banget'. Terdapat kenikmatan bisa ikut serta sharing atas apa yang kita ketahui kepada orang lain yang belum tentu dapat dilakukan saat offline.

Nge-blog sebagai hobi baruku, tidak pernah dibayangkan sebelumnya. Nah, berbicara tentang hobi, ada pertanyaan apa bedanya antara hobi dan pekerjaan hayoo? Tulisannya yang laeeennn.... Ngawur kamu. Ini bedanya, menurut Bapak Supriyatno -Dirut Bank BPD DIY yang baru.... Kalo pekerjaan, kita cenderung mengarapkan sesuatu imbalan atas aktivitas yang kita lakukan-entah itu uang, jabatan, fasilitas, kehormatan atau lain-lain. Tapi kalo hobi, kita malah mengorbankan sesuatu yang telah kita miliki namun kita dengan senang hati rela untuk melakukannya.

Kembalii ke laptop!!! Memang diakui situs inilah sebagai awal perkenalanku dengan dunia blogger. Untuk newbie, blogspot cocok untuk dijadikan ajang latihan nge-blog. Mudah digunakan dan tersedia fitur2 menarik yang bisa diakses untuk mempercantik blog kita. Namun yang namanya blog gratisan pasti banyak kekurangannya (yang ini gak usah dibahas ya, nanti yang punya bisa marah).

Dari klik sana-sini, akhirnya dapat info, kalau pengen tampilan webblog-nya lebih keren, lebih seo, lebih leluasa untuk diutak-utik, dan yang terpenting - weblog yang Gue banget, maka ente pake aja blog punya wordpress cuman yang berbayar. Boleh juga nih, katanya juga udah jadi hobi berarti siap korban modal.

Alhasil lahirlah beberapa weblog yang menyediakan informasi yang ringan-ringan tapi gak kalah keren ama website lainnya. Di samping weblog tempat curhat (ihiik), juga berisi info-info ok seperti panduan jadi orang tua, tips milih HP yang uptodate, peluang bisnis terkini, sampe bahas tips kebal diguna-guna orang juga tersedia dst.... informasi apapun bisa diposting dalam blog. Yang penting jadiin ngeblog sebagai hobi.



You've got to find what you love

Jangan ngaku netter bila tidak mengenal Steve Jobs. Bersama Steve Wozniak dia mendirikan Apple Computer Corporation dan menjadi milyader sebelum usia 30 tahun. Dedikasinya kepada pekerjaan telah menjadi inspirasi bagi jutaan orang sedunia.

Salah satu buah pemikirannya dapat disimak pada pidato 'You've got to find what you love', sebagaimana yang disampaikannya saat acara wisuda di Stanford University pada 12 Juni 2005, Meski sudah hampir empat tahun berlalu, pidato ini masih menarik untuk dibaca. Bahkan rekaman video-nya di YouTube telah diakses lebih dari dua juta kali.

Berikut cukilan pidato Steve Jobs, yang telah diterjemahkan oleh Dewi Sri Takarini


You've got to find what you love

Kadangkala kehidupan menimpakan batu ke kepala Anda. Jangan kehilangan kepercayaan. Saya yakin bahwa satu-satunya yang membuat saya terus berusaha adalah karena saya menyukai apa yang saya lakukan. Anda harus menemukan apa yang Anda sukai. Itu berlaku baik untuk pekerjaan maupun pasangan hidup Anda. Pekerjaan Anda akan menghabiskan sebagian besar hidup Anda, dan kepuasan sejati hanya dapat diraih dengan mengerjakan sesuatu yang hebat. Dan Anda hanya bisa hebat bila mengerjakan apa yang Anda sukai. Bila Anda belum menemukannya, teruslah mencari. Jangan menyerah. Hati Anda akan mengatakan bila Anda telah menemukannya. Sebagaimana halnya dengan hubungan hebat lainnya, semakin lama-semakin mesra Anda dengannya. Jadi, teruslah mencari sampai ketemu. Jangan berhenti.
Ketika saya berumur 17, saya membaca ungkapan yang kurang lebih berbunyi: “Bila kamu menjalani hidup seolah-olah hari itu adalah hari terakhirmu, maka suatu hari kamu akan benar.” Ungkapan itu membekas dalam diri saya, dan semenjak saat itu, selama 33 tahun terakhir, saya selalu melihat ke cermin setiap pagi dan bertanya kepada diri sendiri: “Bila ini adalah hari terakhir saya, apakah saya tetap melakukan apa yang akan saya lakukan hari ini?”

Bila jawabannya selalu “tidak” dalam beberapa hari berturut-turut, saya tahu saya harus berubah. Mengingat bahwa saya akan segera mati adalah kiat penting yang saya temukan untuk membantu membuat keputusan besar. Karena hampir segala sesuatu-semua harapan eksternal, kebanggaan, takut malu atau gagal-tidak lagi bermanfaat saat menghadapi kematian. Hanya yang hakiki yang tetap ada. Mengingat kematian adalah cara terbaik yang saya tahu untuk menghindari jebakan berpikir bahwa Anda akan kehilangan sesuatu. Anda tidak memiliki apa-apa. Sama sekali tidak ada alasan untuk tidak mengikuti kata hati Anda.

Tidak ada orang yang ingin mati. Bahkan orang yang ingin masuk surga pun tidak ingin mati dulu untuk mencapainya. Namun, kematian pasti menghampiri kita. Tidak ada yang bisa mengelak. Dan, memang harus demikian, karena kematian adalah buah terbaik dari kehidupan. Kematian membuat hidup berputar. Dengannya maka yang tua menyingkir untuk digantikan yang muda. Maaf bila terlalu dramatis menyampaikannya, namun memang begitu.

Waktu Anda terbatas, jadi jangan sia-siakan dengan menjalani hidup orang lain. Jangan terperangkap dengan dogma yaitu hidup bersandar pada hasil pemikiran orang lain. Jangan biarkan omongan orang menulikan Anda sehingga tidak mendengar kata hati Anda. Dan yang terpenting, miliki keberanian untuk mengikuti kata hati dan intuisi Anda, maka Anda pun akan sampai pada apa yang Anda inginkan. Semua hal lainnya hanya nomor dua.








Kalau Anda mau baca teks aslinya, silahkan klik ke http://news-service.stanford.edu/news/2005/june15/jobs-061505.html

Burung Putih

Pagi-pagi subuh benar Faiz anakku yang berusia 3,5 tahun, menggoyangkan tubuhku saat aku tertidur. Katanya, “Ayo bangun Pah, ke sawah!” Rupanya dia tahu kalau pagi ini adalah hari libur dan biasanya setiap hari libur aku selalu mengajak kedua anakku jalan-jalan pergi ke sawah yang terletak tidak jauh dari rumah kami. Seakan tidak mau kalah dengan kakaknya, dik Ezy anakku yang berusia 18 bulan ikut-ikutan membangunkan tidurku. “Pah, sawah ayooo!”

“Baiklah, tunggu sebentar ya. Berangkat ke sawahnya abis sholat subuh yaa.” Tanpa disuruh lagi, serentak kedua anakku langsung sholat. Tentu saja mereka sholat dengan caranya mereka masing-masing, ada yang menghadap utara dan ada juga yang langsung sujud. Lucu sekali, menyaksikan kedua anakku berjempalitan di lantai seakan sedang menirukan gerakan sholat. Semoga Tuhan bermurah hati memberikan poin atas semangat beribadah kedua anakku.

Terdapat satu hal yang dinanti-nantikan oleh kedua anakku kenapa mereka bersemangat sekali mengajak jalan-jalan ke sawah. Di sana, mereka hanya ingin melihat burung putih.

Saya bukanlah ahli burung atau zoologist, saya tidak tahu jenis spesies apakah burung tersebut. Kami hanya menamainya Burung Putih. Burung putih ini bentuknya menyerupai burung camar namun bentuk tubuh dan kakinya pipih memanjang dengan paruh panjangnya yang berwarna kuning. Walaupun ukurannya lebih kecil dari burung merpati namun bentangan sayapnya lebih lebar dari bentangan sayap burung merpati. Yang jelas burung putih tersebut bermunculan dari hutan mini yang berada di dekat sawah. (mohon maaf sebelumnya, sejauh ini saya berusaha mengabadikan gambarnya dengan camera handphone-ku namun belum ada yang bagus).

Setiap pukul 05.45 pagi, selama 10 menit lamanya, sekitar 200-300 burung putih akan terbang secara beriring-iringan ke arah timur melintasi sawah tempat kami biasa nongkrong.

Anakku tahu persis, jika kami dapat tiba di sawah dengan tepat waktu, kami akan menyaksikan kawanan burung putih yang terbang rendah melintasi tepat di atas kami berdiri. Sungguh menakjubkan menyaksikan kawanan burung terbang dengan lambatnya seakan-akan waktu terasa berhenti.

Semua bergembira saat burung putih terbang melintasi atas kepala kami. Dik Ezy melambaikan tangannya ke arah burung terbang. Sedangkan Faiz bertugas meneriaki burung putih yang tersesat terbang keluar dari rombongannya.

Namun, tak jauh dari tempat kami berdiri, saya melihat sepetak sawah yang terdapat sebuah papan pengumuman berisi pengumuman ‘Tanah Dijual’. Mungkin saja tak lama lagi akan bermunculan papan-papan pengumuman yang sama di setiap petak sawah yang tersisa. Mungkin 3-5 tahun lagi, seluruh sawah ini akan berubah menjadi kawasan perumahan. Sudah barang tentu, hutan mini tempat tinggal burung putih juga akan ditebangi dan berubah menjadi real estate, residence, atau griya-griya sebagainya. Jika sudah demikian, maka sudah tidak ada lagi pemandangan burung putih yang terbang rendah melintasi kami. Sampai kapan kenikmatan ini akan tetap berlanjut?

Memaknai tahun baru: One step closer

Kebetulan pada permulaan tahun 2008 kali ini hampir bersamaan dengan pergantian tahun jawa yang penanggalannya berdasarkan peredaran bulan. Terdapat hal yang menarik bagaimana masyarakat menyikapi datangnya pergantian tahun baru tersebut. Apabila pergantian tahun masehi biasa dirayakan dengan penuh pesta dan hura-hura. Berbagai hiburan disajikan dalam rangka menyambut pergantian tahun baru, mulai dari acara televisi hingga pertunjukan live kembang api di pusat-pusat keramaian kota.

Namun berbeda dengan pergantian tahun masehi, pergantian tahun jawa oleh masyarakat jawa dirayakan dalam suasana laku prihatin. Saat menyambut 1 Sura atau malam pergantian tahun jawa masyarakat Yogyakarta biasa melakukan ritual dengan melakukan ritual Tapa Bisu yang dilakukan dengan Mubeng Beteng atau berjalan kaki mengitari benteng Kraton Yogyakarta mulai dari sisi utara, ke arah barat sampai kembali ke tempat semula. Tradisi menyambut bulan Sura ini telah berlangsung sejak kepemimpinan Sultan Agung (1613-1645).

Bagi masyarakat Jawa, tradisi di bulan Sura yang dilakukan oleh masyarakat Jawa adalah sebagai upaya untuk menemukan jati dirinya agar selalu tetap eling lan waspada. Eling artinya harus tetap ingat siapa dirinya dan dari mana sangkan paraning dumadi (hakekat asal mulanya), kedudukannya sebagai makhluk Tuhan, tugasnya sebagai khalifah manusia di bumi baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Waspada, artinya harus tetap cermat, terjaga, dan waspada terhadap segala godaan yang sifatnya menyesatkan. Karena sebenarnya godaan itu bisa menjauhkan diri dari sang Pencipta, sehingga dapat menjauhkan diri dalam mencapai manunggaling kawula gusti.

Yang menarik dari kegiatan ritual tersebut adalah fenomena jumlah peserta Mubeng Beteng yang berasal dari masyarakat umum yang semakin bertambahnya jumlah dari tahun ke tahun. Kirab Mubeng Beteng yang diprakasai oleh Abdi Dalem Keprajan Kraton Yogyakarta saat ini diikuti oleh ribuan orang yang berdatangan dari wilayah Yogyakarta dan sekitarnya. Mungkin dijaman modern yang serba hi-tech ini, masyarakat semakin mendambakan akan pemenuhan kebutuhan spiritual.

Mungkin sudah saatnya kita merubah mind set dalam menyikapi pergantian tahun seperti halnya kebijaksanaan masyarakat jawa tersebut. Alangkah baiknya dalam menyikapi pergantian tahun diisi dengan penuh intropeksi diri mengingat kedudukan manusia sebagai makhluk Tuhan yang pada suatu saat akan dikembalikan kepada kehadirat-Nya. Tidak ada seseorang yang mengetahui kapan saatnya tiba.

Saya teringat, sewaktu saya sedang jalan-jalan di toko buku, sekilas saya tertarik pada sebuah buku yang judul bukunya sangat kontroversial, yaitu Kiamat 2012 Investigasi Akhir Zaman. Dalam buku tersebut Lawrence E. Joseph, sang penulis meramalkan datangnya hari kiamat yang akan datang pada tanggal 12 Desember 2012 berdasarkan penafsiran atas penanggalan yang dibuat oleh masyarakat Maya Kuno. Terlepas apakah ramalan tersebut itu benar atau salah, yang jelas biarlah waktu yang akan membuktikannya sendiri.

Pergantian tahun berarti kita satu tahun lebih dekat dengan kebinasaan kita. Kita seharusnya prihatin dengan hal ini.

Writing : Never too late for learning

Selama sebulan terakhir ini, saya bergabung dalam milis ‘Penulis Lepas’, sebuah forum dunia maya yang membahas segala hal yang berhubungan dengan dunia penulisan, mulai dari teknik menulis hingga kiat menerbitkan buku. Banyak hal yang bisa dipelajari dari keanggotaan saya dalam forum tersebut, untuk itu saya menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya diperbolehkan bergabung menjadi anggota milis tersebut.

Kebanyakan anggota milis yang aktif tersebut adalah orang-orang profesional yang telah menjadikan kegiatan menulis sudah menjadi bagian hidup. “Writing is a part my life”, demikian motto Pak Jonru sang admin milis. Sebagian penulis lain, sudah menganggap menulis sebagai istri keduanya – (mungkin dulu nikahnya pake ijab siri ya? hehehehe)

Jika dibandingkan dengan mereka, saya bukanlah termasuk orang-orang yang ingin mendedikasikan diri berkarier dalam dunia penulisan. Bagiku menulis adalah terapi jiwa yang murah dan mengasyikan. Saat sendirian, menulis dapat menjadi media untuk mengungkapkan isi hati ini dengan lebih jujur - yang mungkin tidak dapat dilakukan apabila disampaikan dalam bahasa lisan. Saat sedang emosi, menulis dapat membantu saya untuk dapat menata emosi dan logika kerja pikiranku.

Tapi terkadang menulis tidaklah hanya untuk mencari kesenangan diri namun kegiatan tersebut diperlukan saat mengerjakan tugas-tugas dinas di kantor yang output pekerjaannya berhubungan erat dengan publikasi, copywriter, dan pekerjaan lain yang membutukan keahlian menulis. Bagi penulis amatiran macam saya, menulis dengan baik benar dan benar merupakan tugas yang berat terutama saat saya tidak memiliki ide tulisan.

Beberapa kali hasil tulisanku masih sangat mentah dan jauh dari kata rampung….. Kenapa bisa? Bukankan selama ini saya memiliki waktu yang cukup untuk menulis, bahkan fasilitas yang dimiliki sudah lebih dari memadai. Saya tidak bisa membayangkan apabila teknologi komputer dan MS-Word belum diketemukan pada saat ini, tentunya saat ini saya harus mengetik dengan mesin ketik. Mungkin berapa lembar kertas yang terbuang sia-sia hanya untuk menutupi kelemahanku dalam menulis.

“Menulis…menulis… menulis….!!!”

Demikian nasehat Jonru dalam milis tersebut agar kita trampil menulis. Menulis butuh praktek sebagaimana belajar bersepeda. Namun yang kurasakan kali ini sangatlah berbeda dengan saat bersepeda. Saat bersepeda yang perlu dilakukan hanyalah sekuat-mungkin mengayuh pedal sepeda dan mengendalikan stang untuk menjaga sepeda tetap berdiri. Sedangkan saat menulis, selain berlatih menulis tetap saja membutuhkan bahan yang dapat digunakan saat menulis. Bagaimana bahan-bahan tulisan yang ada diawang-awang pikiran kita, kita olah selanjutnya dimanajemen sedemikian rupa hingga menjadi rangkaian kata yang memiliki makna.

Ada sebuah kisah yang mungkin berhubungan dengan artikel ini. Kemaren, saya menemukan sebuah buku diary yang berisi tulisan-tulisanku semasa SMP-SMA dulu. Setelah sekian lama tidak membacanya, saya merasa geli sendiri saat membaca kembali tulisan-tulisan saya yang banyak bercerita tentang kejadian-kejadian jaman dulu seperti pengalaman saat kemah pramuka hingga urusan cinta-cintaan ala anak sekolah. Walaupun saat itu masih remaja, boleh nyombong sedikit ternyata gaya penulisannya agak-agak mirip ‘chicken soup of soul’ yang alirannya rada-rada ‘ndangdut’ dengan beberapa kosa katanya antara lain sepiring berdua, gubuk derita, nasib anak PNS hehehehehe…..

Terlepas dari kualitasnya, yang membuatku sedikit apresiasi ternyata saat dulu saya begitu mudahnya dalam hal mengungkapkan segala isi hati. Tak terasa rangkaian kata yang berhasil disusun ternyata rata-rata panjang tulisannya mencapai 2-3 halaman buku, apabila dihitung mungkin ‘word count’-nya mungkin lebih dari 4.000 karakter.

Sedangkan saat ini, hanya menyusun sebuah artikel hanya sebanyak 1 halaman saja dibutuhkan perjuangan besar untuk dapat menyelesaikannya. Saya menyadari setelah sekian lama lulus dari bangku SMA saya tidak lagi melatih kemampuan menulisku. Untuk memulainya kembali, tentu saja dibutuhkan energi yang besar sebagaimana energi yang dibutuhkan untuk menggerakan momentum mobil bergerak. Di samping itu waktu yang ada tidaklah seleluasa apabila dibandingkan saat dulu sewaktu belum bekerja dan berkeluarga. Namun yang menjadi pertanyaannya, jika tidak sekarang – kapan lagi?

"Never too late for learning."

Digerakkan oleh mimpi-mimpi

Malam ini jam telah menunjukkan pukul 23.30, di depan hadapanku terlihat pemandangan istri dan anak-anakku tertidur lelap meninggalkan aku yang masih bekerja dengan ditemani laptop Compaq-ku.

Setelah menjalani rutinitas yang dijalani berulang-ulang setiap harinya dimana pagi sampai siang bekerja di kantor, kemudian bila tidak ada lembur dilanjutkan bermain-main dengan anak-anak hingga mereka tertidur baru setelah itu baru bisa memulai mengerjakan proyek pribadiku hingga larut malam, membuat badan ini sepertinya menyampaikan sinyal-sinyal kelelahannya. Sudah setengah jam lamanya kepala ini terasa berat dan mata melelehkan cairannya, namun bagaimanapun aku harus menahannya paling tidak hanya untuk 15-30 menit kemudian. Pemandangan kedua anakku yang tertidur lelap itulah yang dapat menahan kesadaranku hingga tetap terjaga.

Adalah sebuah mimpi yang mengharapkan masa depan yang cerah bagi kedua anakku, juga merupakan mimpi-mimpi yang menginginkan kesejahteraan dan kualitas hidup yang lebih baik pada lima atau sepuluh ke depan. Dan, saya berkeyakinan bahwa mimpi-mimpi itu tidak dapat terwujud dalam sekejap, namun harus dibangun oleh sebuah proses panjang untuk menunda kenyamanan yang ada pada saat ini. Apa yang kita lakukan pada saat ini dapat memberikan perbedaan-perbedaan di masa yang akan datang.

Insya Allah, mimpi-mimpi tersebut dapat terwujud hanya melalui kedisiplinan. Jim Rohn, seorang penulis 17 buku dan motivator Amerika memberikan makna pada arti kedisiplinan,

“you don’t have to change that much for it to make a great deal of difference. A few simple disciplines can have a major impact on how your life works out in the next ninety days, let alone in the next year or the next three years.”